Joko Widodo
Sumber* Wikipedia.
Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi
Notomiharjo dan merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat
bersaudara. Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit
Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati
. Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono.Ayahnya berasal dari
Karanganyar, sementara kakek dan neneknya berasal dari sebuah desa di
Boyolali.
Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah
.
Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek
payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah
dan uang jajan sehari-hari. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan
sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian
bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai bekerja sebagai penggergaji di
umur 12 tahun.
Jokowi kecil telah mengalami penggusuran rumah sebanyak tiga kali.
Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali di masa kecil memengaruhi
cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota
Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.
Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di
SMP Negeri 1 Surakarta. Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke
SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga pada akhirnya ia masuk ke
SMA Negeri 6 Surakarta.
Jokowi menikah dengan
Iriana di Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak, yaitu
Gibran Rakabuming Raka (1988),
Kahiyang Ayu (1991), dan
Kaesang Pangarep (1995).
Gaya kepemimpinan
Jokowi dikenal akan gaya kepemimpinannya yang pragmatis dan membumi.
Ia seringkali melakukan "blusukan" atau turun langsung ke lapangan untuk
melihat langsung permasalahan yang ada dan mencari solusi yang tepat.
"Blusukan" juga dilakukan untuk menemui langsung warga dan mendengar
keluh kesah mereka. Gaya yang unik ini dijuluki
The New York Times sebagai "demokrasi jalanan".
Jokowi juga dianggap unik dari pemimpin lainnya karena tidak sungkan
untuk bertanya langsung kepada warga dan mendekati mereka bila akan
melancarkan suatu program.
Namun, gaya ini juga menuai kritik. Misalnya, ketua
Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman
menyatakan bahwa "blusukan" hanya menghabiskan waktu dan energi,
sementara yang dibutuhkan adalah kebijakan langsung dan bukan sekadar
interaksi.
Anies Baswedan juga menilai "blusukan" merupakan pencitraan belaka tanpa memberikan solusi.
Selain "blusukan", kepemimpinan Jokowi juga dikenal akan
transparansinya. Misalnya, Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama sama-sama mengumumkan jumlah gaji bulanan dan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kepada umum. Ia juga memulai sejumlah program yang terkait dengan transparansi seperti
online tax,
e-budgeting,
e-purchasing, dan
cash management system. Selain itu, semua rapat dan kegiatan yang dihadiri oleh Jokowi dan Basuki direkam dan diunggah ke akun "Pemprov DKI" di
YouTube.
Gaya kampanye
Gaya berkampanye Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta menekankan
pendekatan langsung kepada masyarakat dengan mendatangi mereka langsung
daripada mengumpulkan orang di lapangan.
Jokowi mengklaim bahwa ia menghindari pemasangan spanduk, poster,
stiker, dan baliho di taman kota atau jalan karena menurutnya dapat
mengotori kota, sehingga ia secara langsung mencopot spanduk di depan
bioskop Megaria, Jalan Diponegoro.
Selama kampanye pilkada Jakarta, Jokowi juga dikenal akan baju
kotak-kotaknya, yang menurutnya dibeli satu jam sebelum berangkat ke
Komisi Pemilihan Umum Daerah dan dikatakan mewakili "warna-warni Jakarta yang harus diakomodasi".
Salah satu kekuatan Jokowi dalam berkampanye adalah penggunaan
media sosial. Selama kampanye pilkada Jakarta, ia meluncurkan
Jasmev atau
Jokowi Ahok Social Media Volunteer, yang merupakan jaringan antar kelompok sukarelawan tanpa bayaran.Selain itu, Jokowi juga membentuk
media center dan mampu memanfaatkan
Youtube sebagai wadah kampanye baru. Pihak Fauzi Bowo sendiri mengakui keunggulan Jokowi di kanal ini.
Berdasarkan hasil audit Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta pada
Agustus 2012, pemasukkan dana kampanye pasangan Jokowi-Basuki tercatat
sebesar Rp 16,31 miliar, sementara pengeluarannya mencapai Rp 16,09
miliar.
Sebagian besar dana dialokasikan untuk spanduk, alat peraga, dan bahan
kampanye, dengan biaya penyebaran bahan kampanye sebesar Rp 4,2 miliar,
alat peraga sebesar Rp 2,6 miliar, dan rapat umum sebesar Rp 2,1 miliar.
Biaya iklan cetak sendiri tercatat sebesar Rp 729 juta, sementara biaya iklan radio mencapai Rp 516 juta.
Jokowi mengklaim bahwa sebagian besar dana digunakan untuk kampanye "murah" dengan sasaran rakyat kecil. Sebagai perbandingan, pengeluaran kampanye Fauzi Bowo tercatat sebesar
Rp 62,57 miliar, sementara pemasukkan dana kampanyenya mencapai Rp 62,63
miliar.
Salam Dua Jari
Lagu kampanye pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mendapat
perhatian media internasional. Dua wartawan asal Indonesia, Eveline
Danubrata dan Heru Asprihanto menulis artikel yang dipublikasikan
Reuters. Artikel tentang lagu kampanye Jokowi-JK tersebut berjudul
Give us jobs, not rock songs, say Indonesia's young voters.